Senin, 03 Agustus 2015

Dibalik Pintu Hitam

RAHMAT

kata-kata yang terucap belum bisa menggantikan waktu yang telah terlewatkan.. meski diri memaksa untuk menyanggupi segala bentuk kepastian namun juga sulit di dapati hasil yang sesuai.. semua akan tetap berujung sia-sia jika tetap berdiri diatas jalan yang salah..

kisah ini akan bercerita tentang seorang pemuda... yah.. seorang pemuda yang akan mengubah cara pikir kita ke arah yang sedikit lebih baik..

Sebut ia dengan nama Adi.. seorang pemuda yang ramah dan juga bersemangat... diawal kisah ini ia adalah seorang piatu yang hanya memiliki ayah sebagai orang tua terakhir nya.. selama beberapa waktu ia ikut kerja bersama paman nya sebagai kuli toko bangunan, karna tidak bersetatus dan tidak memiliki ijazah sekolah hanya pekerjaan ini yang ia rasa bisa ia lakukan.. hasil dari kerjanya lah yang ia gunakan untuk membeli  obat ayah nya yang saat itu hanya bisa berbaring ditempat tidurnya karena sakit yang parah.. semua hal berubah tentangnya setelah beberapa bulan lalu ayah kandungnya meninggal dunia disebabkan sakitnya yang tak berujung sembuh... sepeninggalan ayah nya ini yang membuat ia hilang arah.. seperti apa ia sekarang? semua diluar dugaan.. mengikuti pergaulan dilingkungan nya ia kini menjadi seorang pemabuk, penjudi terkadang ia suka memukuli orang-orang yang diangapnya meremehkan dirinya..

Suatu ketika disore hari dengan berjalan sendiri dari rumah teman perjudiannya ia terduduk sejenak di dekat jalan menuju musholah..  tak berapa lama ia mendengar suara azan berkumandang dari arah musholah itu.. ia terdiam sejenak menatapi sekujur tubuhnya merasa sedikit merinding.. baru kali ini ia merasa akan hal ini.. tersandar ia pada sebuah tembok yang memang terlatak tak jauh dari tempat nya duduk.. tiba-tiba seorang anak kecil belarian dengan terburu-buru menuju ke arah musholah dengan berselempang kain sarung.. karna terburu-buru nya tatkala anak itu terjatuh karna tersandung kain sarung yang ukuran nya lebih besar dari tubuhnya.. namun ia tetap bangkit lagi dan berlari terus ke arah musholah.. ia sadar anak kecil itu memiliki niat yang benar-benar ingin sholat berjamaah di musholah saat itu.. tanpa ia sadari air mata menetes di wajahnya.. perasaan sedih mengetahui dirinya saat ini lebih buruk dari siapapun bahkan jauh lebih buruk akhlaknya dibandingkan anak kecil yang baru dilihatnya tadi.. perlahat ia bangkit dari duduknya dan kembali berjalan menuju rumahnya sambil merenungi kesalahan dirinya.. selama berjalan pulang ia bertemu dengan kakek tua peminta-minta yang mengulurkan tangan kepadanya dengan maksud ingin meminta sesuatu padanya.. kali ini ia merasa hatinya benar-benar sakit karna apa.. jauh dari pikirannya masih ada orang yang lebih membutuhkan perhatian dan uluran tangan orang lain dan mereka masih berusaha untuk hal itu.. risau hati yang semakin dalam ia rasakan.. sesampainya dirumah ia terduduk sujud dengan linangan air mata yang tak tertahankan sebab terbayang banyak kesalahan dan kelalaian yang ia perbuat kepada orang lain dan Tuhan nya.. dengan meratapi semua kesalahan nya ia terduduk kaku tanpa berpindah sedikit pun.. beberapa waktu kemudian terdengar suara langkah seseorang datang menghampirinya.. "Assalamu'alaikum" salam terdengar dari arah belakang nya tepat di depan pintu.. ia berbalik dan menatap seseorang yang ada disana adalah teman pengajian lamanya yang tinggal sedikit jauh.. ia terheran dan tak berkata apa-apa.. "ini aku ilyas" sapanya sambil menepuk bahu adi.. "kamu lupa adi.. aku teman sepengajian mu dulu".. "ia aku ingat yas.." jawab adi masih terheran.. perbincangan terjadi diantara mereka.. ternyata ilyas datang dengan tujuan menetapkan kembali teman lamanya kejalan yang baik.. ia sengaja datang karna mendengar keburukan-keburukan adi yang sudah banyak diceritakan orang-orang. tanpa diduga tak ada penolakan oleh adi.. karna hatinya kini menyesali segala kesalahan nya ia mencoba memperbaiki sikap dan merubah semunya kembali dengan tuntunan teman lamanya ilyas.. waktu berlalu sedemikian hari dan bulan... kini adi menjadi sosok yang berbeda dari biasanya.. kini ia bersama ilyas menjalani kehidupan di pesantren Dakwah milik ayah ilyas sebagai pemuda-pemuda yang memiliki tanggung jawab atas pesantren tersebut.. semua terlihat begitu baik.. dan penulis berharap hingga nanti ia akan tetap menjadi seperti ini bahkan jauh lebih baik lagi..

"Perbaiki diri dan sikap ku sekarang.. jika ada kesalahan cobalah sadari akan keburukan yang kau dapat kedepannya.. jadilah pribadi yang lebih baik untuk dapatkan hidup yang lebih baik.."

Qts : Gaga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar